Jumat, 23 Februari 2018

jodohku di tahun ini



JODOHKU DI TAHUN INI
Apa yang paling menyebalkan dari saat berkumpul dengan keluarga kalau bukan ditanya soal pernikahan. Sudah ada calonnya? Kapan mau menyusul adikmu? Jangan lama-lama loh nanti diambil orang. Ahh, aku hampir jenuh mendengarnya. Sekali dua kali masih bisa kusangkal dengan alasan versi aku, lama kelamaan menjawab dengan senyum pun sepertinya sudah tidak ampuh lagi. Ibu yang biasanya tenang-tenang saja pun sekarang mulai senang menyindir soal jodoh. Sekarang setiap kali pulang dari undangan teman atau kerabat, ibu akan segera bercerita tentang si ini yang sudah punya anak atau si itu yang sudah punya cucu. Rasanya semua orang sedang menerorku sekarang.
“Jodoh itu kan ditangan Allah, Bu”, aku mengeles lagi kali ini.
“Iya, dan akan tetap di tangan Allah kalau kamu tidak memintanya”, jawab ibu sambil menyemai tanaman hiasnya. Aku menyeruput teh pahit yang sudah hampir dingin ini. Pahit dan dingin, seperti hatiku. Wanita mana yang tidak ingin menikah, memiliki pasangan, menjadi istri sekaligus ibu. Aku tahu semua itu sangat menyenangkan. Ada banyak alasan mengapa aku belum ingin menikah sampai di usia penghujung kepala dua ini. Ketiga kakakku sudah menikah dan rumah tangga mereka tampaknya tidak berjalan mulus. Kak Rin ditinggal suaminya yang harus mengabdi menjadi guru di daerah tertinggal, terpaksa ia membuka kios kue kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kak Hani dengan ikhlasnya rela dimadu oleh suaminya dengan alasan menolong janda beranak empat yang terlantar. Dan yang diatasku, Kak Amia sepertinya menikmati penderitaan hidupnya dengan suami yang berpenghasilan lebih kecil daripada dirinya. Mereka bertiga sebenarnya tidak pernah mengeluh, malah sebaliknya. Tapi bagiku, apalah enaknya menjalani rumah tangga seperti itu. Dan yang paling menyesakkan adalah saat adikku, Rasti memilih untuk melangkahiku. Dia cukup berani mengambil keputusan itu.
Aku pamit kepada ibu dan segera berangkat ke kantor. Aku bekerja sebagai seorang editor di sebuah majalah keluarga. Sekarang kantorku mendadak ikut menerorku juga, karena rekan-rekan di kantor senang meledekiku “Editor di majalah keluarga kok belum bekeluarga sih?”, begitu kata mereka. Sebenarnya ledekan itu sudah menjadi barang biasa di kantorku tapi akunya saja yang sedang sensitif mendengarnya.
“Kenapa, Wa? Masih galau soal yang kemarin lagi?”, Della menghampiri mejaku sambil memberikan tulisan yang akan ku edit. Aku mengangguk. Della adalah sahabatku sejak di bangku kuliah, dan dia tahu betul permasalahanku ini. Della bukan tak perduli, tapi ia mengerti sifatku yang tak suka dicampuri soal urusan pribadi. Ujung-ujungnya dia cuma akan menasehatiku untuk memperbaiki diri. Maklumlah, Della yang memiliki suami seorang ustadz itu selalu menyurhku untuk meningkatkan ibadah jika ingin mencari jodoh yang baik.
“Sholatku sudah tidak bolong-bolong lagi kok, Del”, terangku padanya. Della menarik kursinya dan duduk di sebelahku.
“Kamu coba deh tambah dengan amalan sunnah, kayak sholat Dhuha. Karena sholat Dhuha akan melancarkan rezeki seseorang. Termasuk soal jodoh”. Kali ini perkataan Della kumasukkan dalam hati. Benar, mungkin yang wajib saja tidak cukup, mungkin Allah menginginkanku untuk lebih dekat lagi pada-Nya.
“Dan satu lagi! Jangan banyak milih, cantik…”, Della menjawil hidungku. Dia segera menarik kursi menuju meja kerjanya. Della ini sok tau! Aku tidak banyak memilih kok. Tapi aku tidak ingin merasakan apa yang dirasakan ketiga kakakku, jadi wajar saja aku lebih selektif dalam memilih pasangan. Aku ingin seorang lelaki yang pintar untuk menjadi ayah bagi anak-anakku kelak, aku juga ingin lelaki yang berpenghasilan mapan karena kelak aku tidak ingin menjadi ibu dan istri yang sibuk bekerja sampai meninggalkan kewajibanku. Lebih baik aku menjadi ibu rumah tangga saja, tak apa tak berkarir asal dia mampu menghidupi keluarga. Hemm, aku juga tak ingin yang terlalu tua walaupun aku tahu lebih besar kemungkinanku untuk medapatkan yang tua ketimbang yang masih muda. Maklumlah, resiko lama menikah. Tapi adakah yang sepaket lengkap seperti ini? Aku tak begitu yakin sebenarnya.
Saran Della mulai kujalankan. Mulanya memang malas-malasan untuk mengerjakan sholat Dhuha yang hanya dua rakaat itu. Tapi aku tahu ini pasti pekerjaan setan yang menggodaku untuk bermalas-malasan sehingga semakin menjauhkan aku dari impianku. Dengan segenap hati kuangkat takbir menyerahkan diri kepada Rabb-ku. “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu kegelisahan ini. Dan Engkau tahu yang terbaik untukku”, batinku manakala berdoa selesai sholat Dhuha. Dengan tidak segan kucurahkan semua kegalauanku kepada-Nya, tak malu pula aku pintakan jodoh yang sesuai dengan impianku. Toh, Allah menyuruh kita untuk berdoa dan meminta kepada-Nya, lantas apa salahnya kupinta seseorang itu?
Seminggu saja kujalankan, rasanya ada yang berbeda dengan hidupku. Lebih lapang, lebih tenang, lebih nyaman, lebih… Ahh, lebih baik coba rasakan sendiri. Soal jodoh itu pun tak ku pusingkan lagi karena semakin lama semakin ku pasrahkan kehadirat Allah Ta’ala.
Ini sudah hari kesepuluh kuamalkan sholat Dhuha dengan rutin. Belum selesai melipat mukena, Della yang baru siap berwudhu menghampiriku. Dia memintaku untuk menemaninya ke perpustakaan daerah. Katanya ia harus bertemu temannya, seorang dosen sekaligus praktisi bidang psikologi yang akan diminta untuk mengisi rubrik konsultasi keluarga di majalah kami. Aku mengiyakan saja, mumpung aku sedang tidak ada kerjaan karena editanku sudah kuserahkan kepada redaktur barusan.
Selepas Della sholat, kami segera berangkat dengan mobilnya ke perpustakaan daerah. Jalanan sedikit macet, aku menggerutu dalam hati.“Aneh sekali, ketemuan di tempat lain saja kenapa rupanya?”. Aku bertanya tentang calon pengisi rubrik ini. Kata Della namanya Hana, teman kecilnya dulu. Mengambil S1 dan S2 di luar negeri kemudian kembali ke tanah air dan memilih menjadi dosen sekaligus praktisi. Hana pasti sangat cerdas. Ya, aku beberapa kali mendengar cerita soal temannya yang bernama Hana dari Della dan aku pikir mereka memang cukup dekat hanya saja baru kali ini aku berkesempatan menemuinya.
Sesampai di perpustakaan yang ditunggu belum tiba. Jadilah aku dan Della yang suka melahap buku ini menjelajahi isi perpustakaan. Hampir lima belas menit kemudian barulah Della dihubungi oleh Hana kalau ia baru saja sampai. Della segera menemuinya sedangkan aku masih asyik dengan bacaanku. Tak lama berselang, Della memanggilku.
“Yang mana Hana?”, tanyaku sambil melihat sekeliling perpustakaan yang sepi. Tak ada sosok wanita di sekitar sini. Della tertawa.
“Ini Hana, lengkapnya Hanafi. Aku terbiasa memanggil nama kesayangan ibunya itu”
Mataku membelalak. Bukan karena tak percaya bahwa Hana yang dimaksud adalah lelaki, tetapi sosok Hanafi ini seperti…seperti… Seperti jodoh yang aku pinta! Ya Allah, inikah sepaket lengkap yang sempat kuragukan keberadaannya itu? Inikah orangnya? Hanafi tersenyum kepadaku. Ia mengenalkan dirinya sambil menangkupkan tangan di dada. Aku membalas dengan cara yang sama. “Hilwa”, kataku.
Sepanjang pembicaraan Della dan Hanafi, aku lebih banyak diam. Ribuan pertanyaan menggebu-gebu di dalam pikiranku. Inikah jawaban dari sepuluh Dhuha ku? Hanafi kah orangnya? Bagaimana mungkin ada orang sesempurna pintaku? Tapi siapa Hanafi? Bagaimana kalau dia sudah menikah? Ahh, perasaan apa ini. Mungkin Hanafi pun tak tertarik melihatku. Dia masih terlihat sangat muda, gagah dan… sedikit tampan. Ehm, bukan. Tapi memang cukup tampan. Ya, Allah… bagaimana ini?
Aku mengaduk teh dalam gelas lagi. Kali ini teh manis yang hangat. Seperti suasana hatiku yang sedang dipenuhi kemanisan dan kehangatan. Tangan yang kekar melingkar di bahuku dengan penuh kelembutan. Dia menggelayut manja sementara aku kegelian. Aku memukul tangannya dan dia menjerit pelan.
“Jangan marah-marah dong, nanti cepat tua”, katanya.
“Memang aku sudah tua”, jawabku pura-pura ketus. Hanafi tertawa lepas.
Sejatinya aku memang lebih tua darimu, Mas… Mas Hanafi. Sejak pertemuan kita hari itu kau tahu? Aku semakin memperbanyak rakaat sholat Dhuhaku. Di tengah malam kutambah lagi dengan Tahajjud yang panjang dan penuh cucuran airmata. Saat itu aku merasa Allah sedang menunjukkan kepadaku bahwa aku tak boleh meragukan-Nya. Aku menangis di sepertiga malam memohon ampun karena sempat meragu dengan kedatangan jodohku, tak lupa ku pintakan jalan keluar karena hati ini terlanjur terpikat padamu.
Tak ada lagi cerita tentang dirimu dari Della, sedang aku malu berkata. Sampai hari itu, dua bulan setelah pertemuan kita kau datang mengutarakan niatmu untuk melamarku. Di depan orangtuaku kau tunjukkan kesahajaanmu yang pada akhirnya meyakinkan mereka untuk menerima dirimu sebagai menantu. Kau tahu? Itu adalah sholat Dhuha ke-93 yang aku laksanakan. Dan hari itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku.
“Masih suka menghitung sholat Dhuhamu?”, tanya mas Hanafi. Dia sepertinya suka saat mendengar cerita Della tentang perjuanganku menjemput jodoh. Terutama cerita tentang sepuluh dhuha itu. Sepuluh hari dengan sholat Dhuha yang mengantarkan pada pertemuan pertama kami.
Mas, akan ada seratus, seribu bahkan sejuta Dhuha lagi. Bukan untuk meminta yang lebih baik lagi darimu, tapi meminta engkau dan aku yang lebih baik. Untuk kehidupan kita yang lebih indah, di bawah naungan keridhoan Allah.
Jika sepuluh Dhuha itu bisa memberikanku kebahagiaan seperti ini, maka aku berkenan untuk terus melaksanakannya lagi ya Rabb.

TIPS DAN MOTIVASI
Dalam mengisi lembaran sejarah kehidupan dunia ini marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan melakukan semua perbuatan yang sesuai dengan jalan yang diridhoi oleh Allah atau senantiasa berada pada jalan yang lurus yaitu agama Islam, dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang dan dimurkai Allah yang pada akhirnya akan menjerumuskan diri kita pada kehinaan dan kesengsaraan akhirat.
Salah satu perbuatan tidak disukai Allah adalah terburu-buru, contohnya adalah terburu-buru dalam menjemput jodoh dengan cara melakukan pacaran. Contoh hal yang dimurkai Allah adalah dengan melakukan pacaran. Remaja sekarang banyak sekali melakukan pacaran tanpa sadar mengetahui efek buruk yang akan didapatnya. Allah melarang sesuatu karena perbuatan itu tidak baik untuk manusia itu sendiri.
Hanya dengan berjalan pada jalan Allah, kita akan memperoleh rahmat, ni’mat, hidayah dan karamah dari Allah SWT. Suatu derajat yang sangat didambakan oleh setiap insan yang memiliki keimanan sempurna dan akhlaqul karimah. Derajat tinggi yang tiada bandingannya yang diperoleh seseorang berkat kesholehan amal dan keikhlasannya dalam beribadah.
"Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali orang-orang yang khusyuk." (Al-Baqarah:45)
Ambillah masa untuk mentadabbur al-Quran. Ambillah waktu untuk menghayati hadis-hadis Nabi SAW. Kedua-dua ini adalah sandaran asas utama untuk kita membina sebuah keluarga yang teguh berpegang denganNya. Andai tajwid masih berterabur, pergilah belajar memperbetulkan bacaan. Andai tidak pernah membelek hadis Nabi SAW, pergilah ke majlis ilmu mendengar orang mengajar kitab. Kita bukan sekadar menunggu, tetapi menjemput jodoh dengan mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang terindah buat jodoh kita kelak. Lelaki dan wanita persiapannya sama sahaja. Tidak ada istilah wanita yang harus lebih bersiap sedia berbanding lelaki. Kedua-duanya akan memegang amanah dan tanggungjawab masing-masing.
            Sikap dan langkah yang diambil Rasulullah patut dibanggakan dan menjadi contoh keimanan yang sempurna. Rasulullah telah mempraktikkan perkataan beliau sendiri yaitu bahwa keimanan seseorang belum sempurna hingga ia dapat mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Andai masih rasa kurang agama di dada, belajar dan carilah ilmu tersebut. Tingkatkan akhlak dan peribadi. Perlengkapkan diri dengan Fiqh Wanita, Fiqh Kekeluargaan dan pelbagai Fiqh lagi. Andai kita tidak menyibukkan diri dengan pencarian ilmu, takutilah kita akan 'disesatkan' oleh serangan hawa nafsu.
Bagi yang belajar agama pula, jangan sesekali merasakan diri sudah 'cukup' dengan ilmu agama yang ada di dada. Ilmu yang dipelajari itu sebenarnya hanya sebagai 'kunci' sahaja. Andai ada kunci, tetapi tidak berusaha membuka peti, takkan terbuka juga peti tersebut. Seperti itulah juga orang yang belajar agama, selagi tidak diamalkan ilmu yang ada di dada, selagi itulah tidak akan mampu untuk dia kuat menongkah arus ujian yang lebih berganda dari orang yang tidak belajar agama. Selain itu, teruslah berdoa tanpa jemu. Teruslah optimis berdoa tanpa merasa buruk sangka kepada Allah.


tegar



TEGAR
 
Sinar sang surya telah meninggi di atas jam 12.00 WIB, surya yang sangat terik, tak ada awan yang menghalanginya, tak ada 1 burung pun yang terlihat melintasi langit, tak ada angin sejuk yang meraba dan membelai rambutku, hanya suhu panas yang kurasakan. Yang terlihat di langit hanyalah matahari dan langit berwarna biru. Ada yang mengeluh dan mencerca cuaca seperti ini. Adzan berkumandang dengan merdunya terdengar di telinga setiap umat, suara terindah yang selalu kudengar kala 5 waktu datang. Suara yang menggugah hati orang-orang mulia, mengajaknya untuk terus menapaki jalan Allah SWT.
Adzan adalah angin sejuk yang merambah ke hati dan pikiranku. Tak ada angin, Adzan pun jadi. “Tika, bagaimana keadaanmu nak? Apa tidak merasa pusing lagi?”. Ibuku bertanya dengan suara lembut nan menyentuh relung hatiku, menambah sejuk hatiku. Oh, ibuku yang kucintai, ibuku yang selalu menasihati aku untuk selalu menjadi seseorang yang baik, soleh dan pintar. “Alhamdulillah baik bu, tika sekarang akan memenuhi panggilan itu karena Allah.”. Ibuku sangat perhatian padaku meskipun usiaku sudah 20 tahun. Selesai sholat dzuhur berjamaah di masjid aku menyelesaikan tugas kuliahku, meskipun ini hari libur aku tak akan membuang waktu ku. Aku akan pergunakkanya dengan sebaik-baiknya.Setelah tugas-tugasku kelar. Aku tidak lupa untuk makan dan meminum obat. Iya benar kenapa ibuku selalu perhatian lebih ke aku. Karena aku mengidap szikrofenia dan saat ini aku dalam masa berobat jalan. Ya memang penyakitku ini terlihat mengawatirkan. Banyak yang mengira aku udah tidak punya nyali dan tidak tangguh. Tetapi itu hanya perkiraan orang yang melihat hanya diluar saja. Siapa yang tidak berjuang. Aku banyak berjuang demi kuliah, ibuku, dan penyakitku ini beserta agamaku. Aku sakit karena sering melihat kakakku yang sering melakukan maksiat dan dahulunya aku juga sering disuruh untuk melakukan pacaran atau melakukan maksiat itu. Aku sering tidak tahan dengan tingkah kakakku ini, ingin rasanya aku membawa ibuku pergi sejauh-jauhnya hingga tak kita temukan lagi maksiat. Tapi Ibu selalu melarangku, Ibu selalu menyuruhku sabar, sabar dan sabar. Menjadi orang yang sabar menghadapi pemuda bajingan, begitu tepatnya. Kakakku yang sekarang bukan lagi kakakku yang dulu aku kenal. Dulu ia sangat baik sekali, tapi semenjak Ayah meninggal Ia jadi Brutal seperti ini. Menjadi pemuda pemabuk, dan suka main perempuan. Tak pernah Ia mendengarkan kata-kata Ibu, Ia selalu melawan, Anak durhaka.
“uhuk, uhuk, uhuk…” suara batuk Ibuku yang sudah lanjut usia berumur 56 tahun. “uhuk, uhuk, uhuk…” suara batuk ibu membuat air mataku pecah tak tertahan lagi. Kali ini Ibu angkat bicara “nak, kau menangis?” tanya Ibuku, aku tak mampu menjawab. “kenapa kau menangis? Kamu ini seorang yang pemberani, dan tak cengeng. Kenapa kamu harus menangis?” sanggah Ibu membuat aku harus membendung air mata yang mengalir di tangan Ibuku. “uhuk, uhuk, uhuk…” kali ini lebih keras. Sejenak ku menatap wajah Ibu yang meneteskan air matanya, Ia berdiri di pintu dengan pisau di tangan kananya.
Permasalahanku dimulai dari ulah kakakku. Dia mempunyai pacar dan selalu melakukan maksiat dengannya. Aku hanya bisa melihat tertegun melihat keadaan itu. Dan di siang hari yang terik ini, aku telah diperkenalkan oleh kakaku dengan seorang pemuda tampan. Kakak menyuruhku untuk kencan dengannya. Karena aku agak labil, aku menurut saja apa kata kakakku. “Tika kamu jalan saja sama si Noval” itu pinta kakakku. Aku hanya bisa menurutinya. Tanpa pamit ke ibu dahulu. Aku dan Noval jalan menuju taman ria. Awalnya memang baik-baik saja, tetapi sesaat kita pulang. Noval mengajakku ke sebuah hotel. Hotel itu bernama MELATI, aku hanya bisa menurutinya. Akhirnya akupun melakukan hal maksiat itu kepada Noval. Pulang dari itu akupun menangis sejadi-jadinya. Karena sebelumnya belum pernah aku melakukan hal itu.. Aku merasa aku bukan seseorang yang sesungguhnya. Aku ini siapa saat ini.
Keesokan harinya saat aku dikampus ”Tika…” teriak seorang gadis berjilbab berwarna biru muda, warna yang teduh. Ternyata aku sangat mengenaknya. Seorang wanita yang aku melihat dan mendengar namanya. “Zahra…!!!” teman satu fakultas denganku, anak seorang Dokter langganan Ayahku dulu sekaligus sahabat karibnya. Zahra, wanita yang cantik, pintar, baik, dan solehah. “Assalamualaikum Tika”, “walaikumsalam, ada apa Zahra? Kenapa kamu menghampiriku? Aku sedang sibuk. “Aku mau mengajakmu ikut kajian!” “Bagaimana, apakah kamu ingin ikut denganku?”  Aku pun menyanggupinya. Aku mengenal banyak hal dalam diskusi kali itu. Semua tentang agama dijabarkan dan dijelaskan secara terperinci. Sebelumnya aku jadi amat cinta sama si Noval. Walaupun banyak penjelasan dan cermah yang aku dengar.
Keesokan harinya aku mendapatkan kabar yang amat menggelegar. Noval yang katanya mencintaiku, ternyata dia sudah mempunyai istri dan satu anak perempuan. Betapa terkejutnya diriku. Lemas dan layu badan ini untuk menyangga. Akhirnya aku pingsan dan tidak sadarkan diri. Ibuku hanya bisa membantuku dan menanyakan penyebab aku lemas begini. Tetapi aku tidak bisa bilang apa-apa.
Rabu, 12 November, 10.21 WIB, aku dibawah oleh 2 orang body guard dan mengajak ku kesuatu tempat. Ternyata itu tempat rumah sakit jiwa. Iya sekarang aku ditahan atau lebih tepatnya menjadi pasien rumah sakit jiwa. Disana aku linglung dan lupa akan segala hal. Patah hati ini membuat semua perasaanku kacau dan tak tangguh lagi. Hari demi hari kulewati di tempat ini. Aku menemukan banyak teman yang sejenis denganku. Banyak pula perawat dan dokter yang mendatangi, menanyaiku. Tiap hari pun aku diberi obat-obatan yang banyak dan membuatku semakin tenang. Memang aku diberi obat penenang disini. Di rumah sakit jiwa aku berusaha tegar dan selalu berdoa semoga diberi kesembuhan oleh Allah SWT.
Ibuku selalu menjenguk ku dan selalu mendoakanku akan musibah yang menimpa diriku ini. Sebulan telah berlalu aku sudah bisa keluar dari tempat itu. Saksi bisu sebuah penyakit yang menimpaku. Aku harus mampu bangkit. Aku perempuan tangguh. Aku dinyatakan bisa rawat jalan oleh dokter.
Sebulan sudah aku dikurung ditempat itu, aku tidak pernah ikut kajian lagi. Sesaat aku rindu dengan teman-temanku, terutama Zahra.
Kamis, 13 Desember, 13.00. Sehabis sholat aku diajak oleh Zahra untuk ikut kajian. Zahra menjemputku dengan mobilnya. Disana aku belajar agama lagi. Belajar setapak demi setapak, mengikhlaskan semua yang telah terjadi pada hidupku.Aku mau memulai perubahan dengan tidak mau melakukan pacaran lagi. Tetapi banyak yang mencemooh aku. Aku dibilang hanya pencitraan saja. Tak apalah dibilang begitu, tetapi aku tekat bulat untuk tidak melakukan maksiat itu. Aku berusaha melupakan Noval. Berusaha memaafkan kesalahan kakakku. Sejak berusaha untuk tobat, aku tidak tinggal dengan kakak dan ibuku. Aku memilih untuk mengekost dekat dengan kampusku. Aku berjuang dengan sekuat tenaga untuk melawan penyakitku. Kalau disaat penyakitku kambuh aku bisa berhalusinasi dan delusi. Aku tidak mau penyakit itu muncul lagi dihidupku. Aku mendekatkan diri kepadaNya.
Senin, 17 Januari, 15.00 Aku pulang ke rumah. Aku buku pintu rumahku yang seperti tak terawat lagi. Aku ucap salam, tak dijawab. Aku panggil Ibu, Ibu, Ibu. Tak ada jawaban. Ku ulang lagi. Aku mendengar suara tangisan kecil dari arah belakang, Aku berjalan ke belakang. Dan… Pemandangan yang mengerikan kulihat di sudut ruangan, seorang pemuda kurus kering, mata cekung, rambut panjang acak-acakan, dan tak memakai baju, hanya celana. Menekuk kakinya dan memeluk lututnya, Ia terus menangis. “Kakak.” “kakak, kau kenapa? Ibu dimana?” Aku bertanya berulang kali tetap tak Ia jawab. Baru Aku sadari bahwa kakakku gila dan buta. Aku sedih. Aku bawa kakakku ke rumah sakit jiwa, tempat dimana aku dirawat dahulu. Aku pergi ke rumah Zahra, Aku bertanya pada Zahra dimana Ibu. Dia hanya diam seribu bahasa, hanya matanya yang berkaca-kaca. Aku harus TEGAR menghadapi semua ini.
TIPS MENJADI MUSLIMAH TANGGUH
Menjadi muslimah yang tangguh untuk era zaman sekarang, memang tidaklah mudah. Tapi kita harus tetap mempertahankan jati diri kita sebagai seorang muslimah, Salah satunya dengan melaksanakan segala perintahNya menjauhi laranganNya. Satu hal yg lagi sering diperbincangkan adalah tentang berpacaran. Para remaja saat ini hanya mengumbar nafsunya untuk melampiaskan emosi, kekesalan dalam hidupnya. Lebih tepatnya untuk pelampiasan sesaat, yang cenderung untuk menyesal diakhirnya. Perempuan terutama memang hatinya mudah rapuh. Saat ini kita saatnya untuk berhijrah dari masa zaman jahiliyah ke zaman kesuksesan. Kita berani bilang tidak untuk melakukan berpacaran. Karena jelas adanya hukum berpacaran adalah haram. Karena mendekati dengan zina. Banyak memang teman-teman kita yang bilang kita munafik, karena berhijrah tidak mau berpacaran. Mereka orang-orang yang picik dan berfikiran sempit dalam memandang masa depan. Banyak hal positif yang lainnya, selain melakukan pacaran yang bisa dilakukan. Walaupun banyak yang memandang sebelah mata. Kita harus tetap berpegang teguh pada Al-Quran.







siapa gerangan kakek itu?



SIAPA GERANGAN KAKEK ITU?

Lelaki itu menggigit bibir mengurangi ketegangan. Tatapannya tetap pada pintu keluar Bandara Soekarno-Hatta. Semestinya pesawat tiba pada pukul 16.20 WIB. Tapi menurut bagian informasi baru datang pukul17.00 WIB. Ia memang pantas kesal, bukan karena lama menunggu, tapi justru, tapi karena diburu waktu.
Pukul 17.05 WIB pesawat mendarat dan beberapa saat kemudian penumpang keluar, namun yang ditunggu perempuan itu belum juga terlihat. Ketika ia hubungi lewat HP, ternyata tidak aktif. Lelaki itu mendengus pada angin, apalagi ketika ibunya menelepon dari rumah apa yang dijemput sudah ketemu atau belum. Boro-boro ketemu, dengan suaranya saja belum. Ia tidak bisa menjawab apa-apa selain merasakan ulu hatinya sakit karena terlampau banyak menekan perasaan.
Sampai setengah enam, yang dijemput tidak juga datang. Padahal dalam pesan singkat melalui BBM  dan terakhir menelepon langsung, ia akan datang menggunakan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan 373 langsung dari Batam. Lelaki itu kini tidak bisa bersuara lagi selain hanya menekan dada yang terasa semakin sakit. Padahal pada orang yang dijemputnya itulah tergantung segala harapan.
“Sudah, kamu balik saja, mungkin dia terlambat datang ke bandara sehingga tak terbawa dengan penerbangan 373,” saran ayahnya dari seberang sana melalui HP yang selalu ia tatap dengan satu harapan, yang dijemputnya itu akan menghubungi kenapa tidak jadi datang dengan penerbangan 373.
Dengan langkah gontai ia keluar dari terminal kedatangan, berdiri sebentar di antara kursi ruang tunggu, sebentar kemudian mobil yang menjemputnya tiba. Ia duduk bersandar di jok belakang dan menghempaskan segala beban tubuhnya.
“Langsung ke rumah, Non?” sopirnya minta kepastian. Ia hanya menggangguk pelan tanpa kata-kata. Mobil meluncur meninggalkan bandara
Sandy tidak bisa melanjutkan alur ceritanya. Padahal itulah bab terakhir dari novelnya yang akan dibuat sisipan sebuah majalah. Sebagai penulis yang cukup kondang di kota ini, ia memang kerap dipesan tulisan baik fiksi maupun tulisan lepas oleh beberapa majalah dan tabloid mingguan. Tapi entah kenapa ketika akan menuntaskan novel selalu saja ada masalah. Ia selalu merasa kehilangan mood dan kehabisan kata-kata untuk membuat ending ceritanya.
Cerita itu mengisahkan  seorang kakek yang  dianiaya oleh anak tirinya. Ia diperlakukan kasar, tidak dihormati dan selalu tidak dianggap sebagai keluarga oleh anaknya. Hingga suatu saat kakek kelelahan dan merasa sudah cukup untuk perlakuan anaknya itu. Ia bertekad untuk mengakhiri nyawanya sendiri. 
Pengetikan naskah cerita fiksi ini terhenti, sesaat Sandy merasa ada orang mengintip dari balik jendela.  Tiba-tiba Sandy napasnya sesak. Ia tak kuasa untuk berdiri bahkan sekedar memijit nomor telepon sekalipun. Sandy ambruk tak jauh dari meja kerjanya. Ia meregang lalu diam. Pingsan.
Saat Sandy pingsan, ia merasa bertemu dengan seorang laki-laki buruk rupa. Wajahnya keriput dan penuh dengan bisul-bisul . Bahkan dalam jarak lima meter saja sudah bisa tercium bau amis bercampur bau busuk. Anehnya kendati berhadapan dengan orang sebau itu, Sandy tidak merasa mual apalagi tergerak untuk meninggalkannya. Sebaliknya Sandy justru diam bahkan seperti mempersilakan agar laki-laki buruk rupa itu duduk di sampingnya.
“Selamat sore, Sandy. Namamu Sandy, ya kan?” sapa lelaki buruk rupa itu. Sandy mengangguk.
“Ya, selamat sore. Bapak ini siapa dan datang dari mana? Kok tau nama saya,” Tanya Sandy membuka percakapan. Ia berusaha untuk menyembunyikan keheranannya. Lelaki buruk rupa  itu menatapnya lebih lekat lalu duduk disebelah Sandy.
“Aku datang dari jauh, San, sengaja datang ke mari karena kau selalu memanggil-manggil namaku,” jelas lelaki buruk rupa itu semakin membuat Sandy tertegun heran.
“Memanggil  kakek?”
“Ya, bukankah kau sedang merampungkan cerita tentang seorang bapak tua yang malang, karena ia selalu hidup dianiaya anaknya sendiri. Dan sekarang kau kehilangan kata-kata untuk mengakhiri ceritamu. Bukan begitu, Sandy?”
“Ya, persis!” gumam Sandy.
“Pertemukan saja kakek tua itu dengan saudara yang mengasihinya. Kau bisa mereka-reka, mereka bertemu disaat peristiwa penganiayaan terjadi. Terakhir jangan lupa cantumkan kemtian bukan karena teraniaya. Karena kakek meninggal karena serangan jantung, bukan karena bunuh diri,” jelas lelaki buruk rupa itu panjang lebar tanpa diminta. Sandy mengangguk tanda setuju. Akhir cerita seperti itu bisa saja mengombang-ambingkan perasaan pembaca sekaligus selalu memungkinkan terselip pertanyaan, benarkah sang Kakek meninggal teraniaya atau tidak.
Sandy siuman. Badannya terasa segar kini. Pikirannya juga terasa lebih bebas sehingga ia benar-benar merasa siap untuk melanjutkan ceritanya. Layar monitor masih menyala. Ketika melihat jam di dinding, Sandy tersentak. Ternyata ia pingsan cukup lama, hampir dua jam. Dan selama pingsan ia hanya bertemu dengan kakek buruk rupa dan bicaranya pun hanya sebentar. Tapi kenapa hanya untuk mimpi sesingkat itu, ia pingsan hampr dua jam. Sandy cepat-cepat membuang gelisah di hatinya, ia kini fokus pada komputer dan menuliskan akhir cerita “Siapa Gerangan Kakek itu”.
Hanya memerlukan waktu setengah jam, Sandy selesai membuat ending ceritanya. Lalu ia baca dari awal lagi sekalian mengoreksi kata-kata yang salah tulis dan logika kalimat yang tidak rasional. Keesokan harinya ia telah muncul di redaksi majalah untuk menyerahkan naskahnya.
“Honornya cash atau kita transfer?” Tanya Laskmi.
“Transfer saja,” balas Sandy
By the way, kau jadi ke Lombok?”
“Inshaa Allah!”
“Sekalian kau tulis kiprah perempuan Lombok antara yang tradisional dan yang telah tersentuh modernitas,”usul Lasmi.
“Ok. Honor tulisan dibayar di muka,” Sandy bercanda.
Of course. Berapa kamu minta?”
Forget it. Aku balik dulu. Nanti aku kabari kapan tepatnya berangkat ke Lombok.”
            Keluar dari kantor redaksi, Sandy langsung ke toko buku. Ada beberapa novel yang perlu ia beli. Keluar dari toko buku menyempatkan ke restoran cepat saji. Perutnya sudah menantang, sejak dikantor redaksi kriuk-kriuk terus. Memang saatnya makan siang dan kalau mau mengajak Laskmi. Tetapi entah kenapa Sandy saat itu bawaannya ingin cepat-cepat balik.
            Ketika menikmati makanan, tiba-tiba matanya melihat seorang lelaki di seberang jalan. Ketika diperhatikan, Sandy langsung tersentak, ternyata lelaki itu, ya lelaki di seberang sana  adalah kakek buruk rupa yang bertemu dimimpi saat ia pingsan kemarin. Sandy buru-buru menyudahi makanannya dan bergegas keluar dari restoran cepat saji tersebut. Tetapi ketika ia menuruni tangga yang menghubungkan dengan koridor sebelum persis di samping jalan, ia melihat orang bergerombol. Sesaat kemudian mobil polisi datang, mengamankan suasana. Sandy tertegun tak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Matanya nanar mencari kakek buruk rupa itu, tapi tetap tak juga ia temukan.
            “Kasihan kakek-kakek itu, mati mengenaskan tertabrak taksi,” celoteh seorang pedagang. Sandy tersentak. Kakek-kakek tertabrak, “Jangan-jangan ia…”
            Sandy bergegas menyeberang dan menembus kerumunan orang. Memang baru saja terjadi tabrakan. Korbannya seorang kakek-kakek yang tidak lain kakek buruk rupa itu. Sandy berdiri lemas tanpa tulang. Lalu ia ambruk setelah menjerit memanggil kakek buruk rupa itu.
            Sandy menolong korban dibantu beberapa tetangga mengubur jasad kakek buruk rupa itu. Sandy merasa heran dengan kehadiran kakek buruk rupa. Awalnya ia menyangkan hanya bertemu dalam mimpi saja, saat ia pingsan, tapi kemudian ia bertemu langsung sehari setelah mimpi itu terjadi. Beberapa hari kemudian Sandy bermimpi kembali sosok kakek buruk rupa, ia mengucapkan terima kasih
            Terciptalah puluhan novel, cerpen dan sajak, lahir setelah pertemuan dengan kakek buruk rupa itu. Namun Sandy sekarang tidak begitu bangga dengan karya-karyanya kendati banyak dipuja dimana-mana, bahkan sering diundang untuk membagi pengalaman bagaimana proses kreatifnya itu. Sandy tidak bangga, karena sekarang ia berkarya justru bukan sebagai pengarang melainkan hanya mengetik rangkaian cerita yang didapat dari almarhumah kakek buruk rupa tadi. Ia merasa telah menanggalkan title kepengarangnya dan berganti hanya sebagai juru ketik, kendati dari situ ia mendapat kekayaan melimpah.
            Sandy tak pasti dengan apa yang telah terjadi. Allah memang Maha Pandai, dan aku maha pander. Ilmu manusia hanya setitik air di lautan maha luas. Di hadapan-Mu, manusia itu kerdil, tidak ada kuasa. Bahkan manusia sangat-sangat kerdil.

😍😍😍


😵😵😵

Rekom dokter yang bagus dan ahli....  Ini dokter marga maramis....  Rumahnya deket plasa marina di margorejo..  Orangnya baik dan enak klo diajak konsultasi...  Disitu tertera alamatnya...
Jadi klo ada yang sakit depresi,  stres apalah itu bisa konsul dokter ini.  Dokter pertama kali aku pas lg depress jadi dokter pertama.


Dokter kedua ku......  dr. Benny.. Orangnya baik pengertian.  pakarnya MEREKA MAH...




Smoga besok besok berkurang dan lepas dari obat...
📩📩☎☎☎📩📩
📩☎📩📩📩☎📩
📩☎📩📩📩☎📩
📩📩📩📩☎📩📩
📩📩📩☎📩📩📩
📩📩📩☎📩📩📩
📩How is it going?
📩📩📩☎📩📩📩

😜😜😜😜😜☁
😜😜😜😜😜😜
😜😜☁☁😜😜
😜😜😜😜😜☁
😜😜😜😜😜😜
😜😜☁☁😜😜
😜😜😜😜😜😜
😜😜😜😜😜☁
☁☁☁☁☁☁
😜😜☁☁😜😜
😜😜☁☁😜😜
😜😜😜😜😜😜
☁😜😜😜😜☁
☁☁😜😜☁☁
☁☁😜😜☁☁
☁☁😜😜☁☁
☁☁☁☁☁☁
😜😜😜😜😜😜
😜😜😜😜😜😜
😜😜☁☁☁☁
😜😜😜😜😜😜
😜😜😜😜😜😜
😜😜☁☁☁☁
😜😜😜😜😜😜
😜😜😜😜😜😜

Before After Penyakit

Malem,  mau update nih.  Kali ini bahas rumah sakit yang aku kunjungi selama dihinggapi penyakit zooombieeeee.
Awal masuk di rumah sakit deket karmen...  Awal mula sakit,  gara gara aku ikutan seminar di intiland . Aku keganggu sama suara bising dari dalam ruangan itu. Ntahlah setelah insiden suara gresek aku sakit.. Slama di rumah sakit yang pertama ini aku kenal banyak perawat, pasien lain dan dokter. Banyak yg perhatian sama aku disini. Sampe sampe ada yang bilang "kamu itu masih muda,  perjalanan masih panjang. Tapi km udah sakit sakitan seperti ini" cukup tau aja kalau gitu.  Siapa juga yg mau sakit.  Iya kan

Rumah sakit kedua...  Kejadian nya pas aku lg di menganti gresik.  Tiba tiba aku kecapekan dan tidur lama banget.  Ga mau bangun dari kasur berhari hari. Bangun bangun stres.  Aku di masukin ke RSAL.  Lalala yeyeye disana. Pokoke medeni.  Aku ga separah yang mereka kira. Tapi aku ditempatin di lingkungan seperti zombie smua. Yaaaa begitulah nasib. Lagi apes.

Yang terakhir ketiga...  Aku masuk lagi di rumah sakit deket karmen selama sebulan. Ini rekor paling lama yang pernah aku alami. Klo yang ketiga penyebabnya.... Ga siap mental buat pacaran. Orang yang aku sayangi cuma anggap aku sebagai teman. Padahal aku tertarik banget ama dia. Lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan...  Ya ya ya...  Dia ga tau begitu besar rasa sayangku sama adek.... Gitu aja sih.  Smoga yang baca ini bisa menghargai dan menjaga kesehatannya, agar tdk bolak balik masuk keluar rumah sakit seperti aku. Gitu aja siiih...

Minggu, 18 Februari 2018

Baca guys




Fakta Menarik Hormon Dopamin

Dopamin adalah salah satu zat kimia di otak (neurotransmitter) yang berperan memengaruhi emosi,  gerakan,  sensasi kesenangan,  dan rasa sakit.  Kadarnya dalam otak bisa naik turun.  Sebagian besar kesenangan, seperti makanan,  minuman, dan seks,  bisa meningkatkan kadar dopamin.  Jadi,  tak heran selepas kita melakukan kegiatan-kegiatan tersebut,  kita akan merasa rileks dan senang.
Begitu pula dengab ODS (orang  dengan skizofrenia), yang notabene memiliki kadar dopamin berlebih di otaknya.  Akibatnya,  ODS merasa senang berlebih hingga mengalami halusinasi di pikirannya.

Nah,  berikut adalah fakta menarik dopamin :
1. Dopamin meningkat ketika ada aktivitas tertentu yang berkaitan dengan kesenangan atau dipicu oleh beberapa jenis obat-obatan (narkotika).
2. Dopamin berpengaruh terhadap rasa-rasa yang menyenangkan, seperti, jatuh cinta, bahagia, motivasi,  dan percaya diri.  Namun,  jika berlebihan maka akan sangat membahayakan.
3. Dopamin juga memengaruhi perilaku seseorang. Bila normal, maka perilaku yang ditimbulkan tentunya akan positif. Sebaliknya, jika berlebihan,  maka perilakunya pun akan berlebihan.
4. Tak hanya memengaruhi sisi perilaku dan perasaan, dopamin juga memengaruhi sistem pencernaan dan kekebalan tubuh.
5. Terlalu banyak dopamin dalam otak terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan risiko gangguan skizofrenia. Sebaliknya, jika terlalu rendah kadarnya, parkinson bisa menjadi akibatnya.
6. Dopamin juga berhubungan erat dengab gangguan lain, seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD). Pada penderita ADHD, akan diberikan obat yang memicu peningkatan dopamin dalam otak.

Psikoterapi

Dalam dunia modern ini, banyak kemajuan besar telah dicapai di bidang kedokteran, teknologi,  ekonomi,  maupun sosial budaya. Kemajuan-kemajuan tersebut memberikan tantangan dan kesempatan bagi manusia untuk maju dan sukses. Namun,  kehidupan modern yang "keras" dan penuh persaingan akan memberikan banyak tekanan dan ketegangan jiwa (stres) kepada masyarakat umum.  Adanya kejadian-kejadian yang menambah beban "kejiwaan", misalnya diberhentikan dari pekerjaan, perceraian, kematian keluarga yang dicintai, atau kehilangan barang kesayangannya,  semua ini akan menambah stres hingga melampaui daya tahan mental individu. Dengan demikian,  akan timbul gangguan-gangguan psikis emosional yang antara lain berupa rasa sedih yang berlebihan, ketakutan,  atau perasaan hampa, gangguan-gangguan pencernaan,  sulit tidur (insomnia),  dan lain-lain. Untuk menyembuhkan gangguan mental psikis tersebut,  perlu dilakukan konsultasi dengan psikolog untuk menjalani psikoterapi.
Psikoterapi atau "terapi bicara" dianggap cukup efektif untuk menyembuhkan gangguan mental dan emosi dalam kasus ringan sampai menengah,  karena penyembuhan dengan obat medis (psikofarma)  akan cepat meredakan gejala,  namun jika obat habis, gejala akan segera muncul lagi.

Bahaya Stres Bagi Kesehatan

Stres normal sebenarnya merupakan reaksi alamiah yang berguna, karena stres akan mendorong kemampuan seseorang untuk mengatasi kesulitan atau problem kehidupan.  Tetapi,  dalam kehidupan modern ini, banyaknya persaingan  tuntutan, dan tantangan yang menumpuk,  menjadi tekanan dan beban stres bagi semua orang.
Jika tekanan stres terlampau besar hingga melampaui daya tahan individu,  maka akan timbul gejala gejala seperti sakit kepala,  gampang marah,  tidak bisa tidur,  gejala gejala itu merupakan reaksi non spesifik pertahanan diri,  dan ketegangan jiwa itu akan merangsang kelenjar anak ginjal (corfek) untuk melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat,  sehingga tekanan darah menjadi naik dan aliran darah ke otak,  paru-paru,  dan otot perifer meningkat.  Jika stres berlangsung cukup lama,  tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian sehingga timbul perubahan patologis.  Gejala gejala patologis yang muncul dapat berupa hipertensi,  serangan jantung,  borok lambung, asma,  eksim,  kanker dan sebagainya.  Jika sudah timbul hipertensi,  stres tetap berlangsung,  sehingga bertambahlaj risikp komplikasi serangan jantung atau stroke otak yang dapat berakibat fatal (kelumpuhan atau bahkan dapat meninggal dunia).
Sebelum timbul komplikasi kesehatan yang serius akibat stres,  sebenarnya ada gejala awal berupa gangguan fisik ataupun mental


DETIK ITU

  Sinar sang surya telah meninggi di atas jam 12.00 WIB, surya yang sangat terik, tak ada awan yang menghalanginya, tak ada 1 burung pun yan...