Abstrak
Seiring dengan dinamika perkembangan kehidupan modern yang semakin
kompleks, maka perubahan psikis dalam diri manusia juga mengalami
perubahan, utamanya dengan perkembangan mental atau jiwa seseorang yang
telah mengalami modernisasi kultur dan gaya hidup. Tekanan psikis atau
gangguan metal (
psychoses) yang melanda banyak masyarakat modern
saat ini memunculkan wacana tentang cara atau alternatif untuk
mengatasinya dengan berbagai terapi. Melalui kajian dimensi keagamaan,
tulisan ini menguraikan tentang sebab-sebab terjadinya depresi mental
yang mengarah pada ketidakserasian hidup dan berujung pada gangguan
kejiwaan (sakit jiwa). Selain itu tulisan ini juga memberikan
alternatif pemecahan masalah depresi mental melalui kajian ke-Islaman
dengan tuntunan akhlak.
Kata-kata Kunci: Depresi mental, Dimensi keagamaan dan Kehidupan modern.
Pendahuluan
Dalam kehidupan modern yang serba kompleks ini, dimana ilmu
pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi ke hampir
seluruh kawasan dunia. Pada saat mana manusia harus berkelit dengan
problem kehidupan yang serba materialistis dan pada gilirannya sangat
egois dan individual. Hubungan antar manusia pada zaman modern juga
cenderung “impersonal”. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh
gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena-fenomena tersebut
membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga
mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan mengendalikan
dirinya, untuk kemudian tetapi tegar dalam kepribadian.
Seperti yang diakui oleh Zakiah Darajat
[1]
bahwa ketenangan hidup, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin tidak
banyak tergantung kepada faktor-faktor luar; sosial, ekonomi, politik,
adat kebiasaan dan sebagainya, malainkan lebih tergantung kepada cara
dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para pasien yang
terganggu kesehatan mentalnya, ia menyimpulkan bahwa kesehatan mental
yang terganggu dapat mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Pengaruh
itu adalah perasaan, pikiran, kelakuan, kesehatan badan, sedang yang
tergolong penyakit jiwa (
psychoses) adalah lebih berat lagi.
Manusia yang serasi, selaras dan seimbang adalah merupakan jargon
hidup bangsa Indonesia. Sejalan dengan ini adalah usaha untuk memperoleh
hidup sehat dan layak: jiwa yang seimbnag, pribadi yang “integrated”
dan kemampuan memecahkan segala problema hidup dengan percaya diri dan
kepribadian yang solid. Sebab kesehatan adalah kondisi normal bagi
seseorang dari terhindarnya gangguan jiwa (
neorosis) dan penyakit jiwa (
psychoses).
Manusia demikian adalah manusia yang sehat secara jasmani maupun rohani
lahir maupun batin. Makalah sederhana ini barmaksud membahas pandangan
Islam mengenai penyakit jiwa dan terapinya.
Pengertian
Penyakit jiwa (
psychoses) adalah kelainan kepribadian yang ditandai oleh mental dalam (
profound-mental)
dan gangguan emosional yang mengubah individu normal menjadi tidak
mampu mengatur dirinya untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat. Dua
istilah dapat diidentifikasikan dengan psychoses ini adalah
insanity dan
dementia.
Insanity adalah istilah resmi yang menunjukkan bahwa individu itu juga
kacau dan gila akibat dari tindakannya. Pada saat lain istilah demenia
digunakan untuk kebanyakan kelainan mental, tetapi secara umum kini
diinterpretasikan sebagai sinonim dengan kekacauan mental (
mental disorder) yang menyolok. Kebanyakan semua, penyakit jiwa ini disertai
dementia[2] itu.
Pada masyarakat umum, penyakit jiwa ini biasanya diistilahkan dengan
gila atau penyakit gila. Sebab mereka sering melakukan tingkah laku yang
semaunya sendiri, tidak wajar dan abnormal.
Seseorang yang diserang penyakit jiwa kepribadiannya terganggu dan
selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan
tidak sanggup memahami problemanya. Seringkali orang yang sakit jiwa
tidak merasa bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya
normal, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari yang
lain.
[3]
Jenis-jenis Penyakit Jiwa
Penyakit jiwa biasanya dibedakan menjadi dua katagori umum, yaitu:
Pertama, adalah kelainan mental yang dicirikan oleh gangguan fungsional. Warisan keturunan yang tidak menyenangkan (
unfavorable heredity)
dilengkapi faktor-faktor konstitusional dan pengalaman hidup yang
merugikan adalah merupakan sebab utama dari penyakit tersebut, termasuk
dalam kategori ini adalah:
schizophrenia, paranoia, manic-depressive dan
involution melancolia. Kedua, terdiri dari penyakit mental yang dikelompokkan dengan pertanda atau bukti organik (
toxis-organic psychoses) termasuk dalam kelompok ini adalah
senile dementia, psychoses with cerebral arteriosclerosis, general presis, alcoholic psychoses.[4]
Seperti juga Zakiah sebutkan,
[5]
bahwa penyakit itu terdiri dari dua macam: pertama, adalah penyakit
jiwa yang disebabkan oleh gangguan-gangguan kejiwaan telah
berlarut-larut, sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian
yang wajar, atau dengan kata lain disebabkan oleh hilangnya keseimbangan
mental secara menyeluruh akibat kondisi lingkungan yang sangat menekan,
ketegangan batin dan sebagainya: kedua, penyakit jiwa yang disebabkan
oleh adanya kerusakan anggota tubuh, misalnya: otak, sentral saraf atau
anggota fisik lain untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin
disebabkan oleh karena keracunan akibat minum-minuman keras, obat-obat
perangsang atau narkotik akibat penyakit kotor (sifilis), dan
sebagainya.
Pandangan Islam tentang Penyakit Jiwa
Dalam perspektif Islam, penyakit jiwa sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (
al-akhlaq al-mazmumah), seperti sifat tamak, dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.
Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya
Nahw ‘Ilmiah Nafsi,[6] membagi penyakit jiwa dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (
riya’), marah (
al-ghadhab), lalai dan lupa (
al-ghaflah wan nisyah), was-was (
al-was-wasah), frustrasi (
al-ya’s), rakus (
tama’), terperdaya (
al-ghurur), sombong (
al-ujub), dengki dan iri hati (
al-hasd wal hiqd).
Beberapa sifat tercela di atas ada relevansinya jika dianggap sebagai penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (
mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (
psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah satunya ditandai oleh sifat-sifat buruk tersebut.
Riya’
Seperti yang dijelaskan oleh As-Syarqawi,
[7]
bahwa dalam penyakit riya’ terdapat unsur penipuan terhadap dirinya
sendiri dan juga orang lain, karena hakikatnya ia mengungkapkan sesuatu
yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Penyakit riya’
merasuk dalam jiwa seseorang dengan halus dan tidak terasa sehingga
hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan penyakit ini kecuali
orang arif yang ikhlas dan taat.
Dalam riya’ terhdap unsur-unsur kepura-puraan, penipuan, munafik,
seluruh tingkah-lakunya cenderung mengharap pujian orang lain, senang
kepada kebesaran dan kekuasaan.
Over acting, menutup-nutupi
kejelekannya dan seterusnya. Sifat yang demikian ini digambarkan dalam
al-Qur’an surat an-Nisa’: 142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits nabi:
“Yang paling aku kuatirkan terhadap umatku adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi’.
Islam memberikan terapi riya’ ini dengan cara mengikis nafsu syahwat
sedikit demi sedikit dan menanamkan sifat merendahkan diri (
tawadhu’) dengan melihat kebesaran Allah SWT.
[8]
Emosi/Marah
Marah pada hakikatnya adalah memuncaknya kepanikan di kepala, lalu
menguasai otak atau pikiran dan akhirnya kepada perasaan. Kondisi
semacam ini seringkali sulit untuk dikendalikan.
Lebih lanjut As-Syarqawi mengungkapkan, bahwa emosi marah akan
menimbulkan beberapa pelampiasan, misalnya secara lisan akan memunculkan
caci-makian, kata-kata kotor/keji dan secara fisik akan menimbulkan
tindakan-tindakan destruktif. Dan jika orang marah tidak mampu
melampiaskan tindakan-tindakannya di atas, maka dia akan berkompensasi
pada dirinya sendiri dengan cara misalnya: merobek-robek pakaian,
menampar mukanya sendiri, mencakar-cakar tanah, membanting perabot rumah
tangga dan seterusnya seperti tindakan orang gila. Marah juga dapat
berpengaruh pada hati seseorang, yaitu sifat dengki dan iri hati,
menyembunyikan kejahatan, rela melihat orang lain menderita, cemburu,
suka membuka aib orang lain dan seterusnya.
[9]
Atas dasar inilah maka nabi melarang orang yang sedang marah untuk
melakukan putusan atau memutuskan sesuatu perkara sebagaimana sabdanya:
“Seseorang jangan membuat keputusan diantara dua orang (yang berselisih) sementara ia dalam keadaan marah”.
Al-Ghazali berpendapat, bahwa cara untuk menanggulangi kemarahan sampai batas yang seimbang dengan jalan
mujahadah untuk kemudian menanamkan jiwa sabar dan kasih sayang.
[10]
Berkaitan dengan hal di atas, Usman Najati
[11]
berpendapat bahwa emosi marah yang menguasai seseorang dapat membuat
kemandegan berpikir. Di samping itu energi tubuh selama marah
berlangsung akan membuat orang siap untuk melakukan tindakan-tindakan
yang akan disesali di kemudian hari, dengan jalan mengendalikan diri,
sebab mengendalikan diri dari marah itu mempunyai beberapa manfaat:
1. Dapat memelihara kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan yang benar.
2. Dapat memelihara keseimbangan fisik, karena mampu melindungi dari ketegangan fisik yang timbul akibat meningkatnya energi.
3. Dapat menghindarkan seseorang dari sikap memusuhi orang lain,
baik fisik maupun umpatan, sikap tersebut juga dapat menyadarkan diri
untuk selalu berintrospeksi.
4. Dari segi kesehatan, pengendalian marah dapat menghindarkan seseorang dari berbagai penyakit fisik pada umumnya.
Dalam hal ini Nabi juga sangat memuji tindakan pengendalian diri
terhadap emosi marah ini dan menganggapnya sebagai orang yang kuat,
sebagaimana sabdanya:
“Tidaklah orang dikatakan kuat itu adalah orang yang pandai
bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya”.
Lalai dan Lupa
Lalai dan lupa termasuk salah satu dari penyakit mental. Lupa oleh
sebagian psikolog juga digambarkan sebagai persoalan yang telah dilalaui
sebelumnya. Dan berdasarkan penelitian para ahli, bahwa penyebabnya
antara lain adalah:
a. Perbedaan kadar kemampuan seseorang di dalam menangkan dan mengingat sesuatu yang telah diketahui sebelumnya.
b. Bahwa pda mulanya proses kelupaan akan terjadi secara drastis dan berangsur-angsur.
[12]
c. Banyaknya informasi yang diterima akibatnya terjadi inferensi informasi.
[13]
Proses kelupaan juga sangat erat kaitannya dengan waktu dan
konsentrasi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Sebagian psikolog berpendapat, bahwa seseorang yang terlalu banyak
mengurusi persoalan-persoalan yang rumit, maka akan menyebabkan
terjadinya proses kelupaan terhadap sesuatu yang telah diketahui
sebelumnya. Oleh karena itu dianjurkan seseorang tidak terlalu memforsir
diri. Dan hendaknya menyisihkan sebagian waktunya untuk beristirahat
(rekreasi, refresing). Daya tangkap seseorang, tidak selmanya menjamin
kemampuan ingatan seseorang, sebab secara internal terdapat
faktor-faktor yang dapat menghalangi seseorang untuk mengingat sesuatu,
seperti rasa takut yang mencekam dan adanya interferensi dan
seterusnya.
[14]
Banyaknya informasi dan kegiatan yang menumpuk sebelumnya membuat
seseorang semakin sulit untuk mengingat materi-materi yang dipelajari
kemudian. Sementara jika informasi terhadap materi yang baru relatif
lebih baik jika informasi dan kegiatan lebih sedikit. Hal ini terbukti
pada anak yang lebih mampu mengingat secara mendetail berbagai peristiwa
pada masa lalu daripada orang dewasa.
[15]
Di sisi lain lupa merupakan sifat asal (tabiat) manusia. Tabiat
inilah yang kadang-kadang membuat manusia lupa akan hal-hal yang
penting, lalai akan Allah swt, dan perintah-Nya, sementara setan selalu
menggodanya. Dari aspek ini kita melihat keberhasilan iblis dalam
menggoda Adam As.
[16]
Was-was
Para ulama memandang bahwa penyakit was-was merupakan akibat dari
bisikan hati dan adanya angan-angan keduniaan yang didasarkan pada hawa
nafsu dan kesenangan duniawi. Penyakit was-was juga merupakan penyakit
yang muncul akibat gangguan setan. Setan mengobarkan hawa nafsu dan
membuat seseorang meragukan agamanya. Lupa daratan, cenderung melakukan
perbuatan keji.
[17]
Dalam menanggulangi penyakit di atas, nampaknya metode yang ditempuh
oleh “psikologi Islam” berbeda dengan yang ditempuh oleh psikologi
modern. Islam memandang bahwa sumber utama dari penyakit was-was adalah
setan. Oleh sebab itu jalan keluarnya adalah terapi berzikir kepada
Allah.
As-Samarqandi, seperti yang dikutip oleh As-Syarqawi
[18]
menyebutkan bahwa setan senantiasa berusaha menggoda dang memperdaya
manusia. Jalan yang ditempuhnya adalah antara lain: melalui sifat
su’uzzan
baik kepada Allah maupun kepada manusia, melalui kemewahan hidup,
melalui sikap menghina orang lain, hasut, dengki, bakhil, riya’, kikir,
tamak, dan sebagainya. Menurut as-Samarqandi cara mengatasi penyakit ini
adalah dengan cara memperkuat keyakinan (iman) kepada Allah dan
berpuasa diri (
qana’ah) akan karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya.
Frustrasi
Frustrasi (
al-Ya’s) menurut as-Syarqawi adalah putus harapan
dan cita. Munculnya perasaan ini biasanya ketika seseorang berhadapan
dengan macam-macam cobaan dan persoalan hidup yang bertolak belakang
dengan hawa nafsunya. Sifat tersebut sangat dicela oleh agama, karena
menjadikan seseorang statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh
terhadap lingkungan, selalu melamun, kehilangan kepercayaan baik kepada
diri sendiri maupun kepada orang lain.
[19]
Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah swt melarang manusia berputus asa akan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus ada sari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf:87).
Dalam
mental hygiene disebutkan: bahwa munculnya perasaan
frustasi disebabkan oleh kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan,
tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan atau terhambatnya
usaha dan perjuangan di dalam mencapai suatu tujuan
[20] dan bandingkan dengan Zakiat Darajat.
[21]
Rakus (Tamak)
Tamak atau rakus adalah keinginan yang berlebih-lebihan yang didasari
oleh kemauan hawa nafsu yang tidak terkendali.jika seseorang mengikuti
hasa nafsunya secara belebihan, maka selama ia bersikap tamak dan tidak
pernah merasa puas dengan apa yang ia terima, selama itu pulaia
terperangkap oleh angan-angan dunia yang tidak pernah terwujudkan.
Menurut as-Syarqawi, cara membendung sifat tamak ini ad lah dengan
membiasakan diri dengan zuhud dan
qana’ah sehingga dengan demikian ia akan bebas dari perbuatan hawa nafsu.
[22]
Terpedaya
Terpedaya (al-Ghurur) merupakan suatu jenis penyakit mental yang
diakibatkan oleh salah persepsi tentang kehiduppan duniawi dan juga lupa
tentang penciptanya.menurut as-Asyarqawi keterpedayaan dan salah
persepsi berkisar kepda dua hal:
a. Tentang kehidupan duniawi
Pemahaman yang tidak benar terhdap kehidupan duniawi dimaksudkan
salah, bahwa dunia dianggap segala-galanya, dunia merupakan tujuan
akhir, harapan dan cita-citanya. penderita penyakit ini selalu meragukan
kehidupan akhrat, akhirat dianggap ilusi, tidak kekal, sementara
kehiudupan dunia dianggapnya segala-galanya.
[23] Persepsi yang demikian ini dikenal dalam filsafat sebagai penganut
hedonisme.
Menurut Islam, untuk menggulangi penyakit di atas adalah dengan
terapi iman, sebab dengan iman seseorang akan menyadari bahwa kehidupan
dunia sesungguhnya bersifat sementara (Ibid). Sebagaimana Allah
berfirman dalam beberapa ayat-Nya, bahwa dunia ini hanyalah permainan
dan senda-gurau saja (lihat: Q.S. Al-An’am: 32, Al-Ankabut: 64,
Al-Hadid: 20, Muhammad: 36).
b. Tentang kepercayaan kepada Allah termasuk dalam kategori terpedaya
adalah kesalahan persepsi terhdap Allah (jika memang benar-benar ada)
maka ia akan memberikan kenikmatan di akherat, mereka menganalogikan
kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Persepsi di atas jelas tidak
benar, sebab adanya kedudukan, kenikmatan, harta dan kedudukan yang
diperoleh seseorang tidak selamanya merupakan indikasi keridaan Tuhan,
melainkan sebaliknya sebagai ujian dan cobaan.
[24]
Dari sisi lain sifat terpedaya juga sering merasuk ke dalam jiwa orang yang berkeyakinan, bahwa dengan sifat
rahman rahim-Nya
Allah akan mentolerir perbuatan-perbuatan hamba-Nya yang sengaja
melalaikan perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, penderita penyakit
ini cenderung selalu mengabaikan perintah-perintah Allah dengan tidak
menyadari bahwa sesungguhnya ia terjebak dalam persepsi yang keliru.
Rasa Bangga Diri (‘Ujub)
Perasaan bangga diri (‘Ujub) sedikit berbeda dengan perasaan sombong
(kibr). Menurut al-Ghazali, kibr merupakan perasaan yang muncul pad
diri seseorang , di mana ia menganggap dirinya lebih baik dan lebih
utama dari orang lain. Sedangkan ‘ujub adalah perasaan bangga diri yang
dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain. ‘Ujub
lebih terfokus kepada rasa kagum terhadap diri sendiri, suka
membanggakan dan menonjolkan diri sendiri. Kadang-kadang pada sebagian
orang emosi ini merupakan tingkah laku yang dominan dalam kepribadian
dan dapat menimbulkan sikap sombong, angkuh serta merendahkan orang
lain.
[25]
Penilaian yang tinggi terhdap suatu pemberian, sikap yang selalu
mengingat-ingat pemberian dan sikap pamrih terhdap perbuatan yang
dilakukan merupakan hal-hal yang termasuk kategori ‘
ujub[26]. Menurut As-Syarqawi,
[27]
bahwa ‘ujub merupakan perasaan senang yang berlebihan. Kemunculannya
disebabkan adanya anggapan bahwa si pasien merupakan orang yang paling
baik dan paling sempurna di dalam segalanya. Sikap
‘ujub adalah
penyakit mental yang sangat berbahaya, sebab eksistensinya membuat hati
menjadi beku di dalam menerima kebaikan, memperingan dosa dan selalu
menutup-nutupi kesalahan, sebagaimana firman Allah swt.:
“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia ia berpaling
dan menjauhkan diri, tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak
berdo’a”. (Q.S. Fusilat: 51).
Dari sisi lain orang yang bangga dengan dirinya telah menyadari akan
kepribadiannya dan mengerti akan kesalahannya, tetapi tidak tertarik
untuk kembali kepada kebenaran, melainkan bersikap putus asa, tetap
ingkar dan bahkan “ogah” melakukan kebajikan dan pengabdian kepada
Allah.
Iri Hati dan Dengki
Iri hati atau juga disebut dengki merupakan gejala-gejala luar yang
kadang-kadang menunukkan perasaan dalam hati. Akan tetapi gejala-gejala
tersebut tidak mudah untuk diketahui, sebab seseorang kan berusaha
semaksimal mungkin menyembunyikan gejala-gejala tersebut.
[28]
Secara umum dapat dikatakan, bahwa rasa iri muncul akibat kegagalan
seseorang dalam mencapai sesuatu tujuan. Oleh sebab itu emosi ini sangat
kompleks, dan ada dasarnya terdiri atas rasa ingin memiliki, rasa
marah, dan rasa rendah diri.
Meski demikian, tidak dapat dikatakan, bahwa rasa iri sebagai
kumpulan dan rasa marah, rasa ingin memiliki dan rasa rendah diri, akan
tetapi lebih dari itu adalah memiliki karekteristiknya sendiri. Dan di
antara gejala-gejala yang nampak adalah marah dengan segala bentuknya
mulai dari memukul, mencela, menghina, membuka rahasia orang lain,
memberontak, membisu, menyendiri, mogok makan, sangat sensitif, dan
seterusnya.
[29]
As-Syarqawi
[30] mejelaskan bahwa emosi ini secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua macam:
a. Iri yang melahirkan kompetisi sehat (
al-munafasah);
b. Iri yang melahirkan kompetisi tidak sehat (
al-hiqd wal hasad).
Iri jenis pertama merpuakan kompetisi sehat untk meniru hal-hal
positif yang dimiliki orang lain tanpa didasari oleh interes jahat dalam
rangka
“fastabiqul khairat”. Iri dalam jenis ini merupakan sesuatu yang diharuskan bagi stiap muslim berdasarkan firman Allah:
“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu
semua kembali, lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu
peraselisihkan”. (Q.S. al-Maidah: 48).
Sementara iri dalam jenis kedua lebihdidasari oleh rasa benci terhdap
apa-apa yang dimiliki oleh orang lain, baik yang berkaitan dengan
materi maupun yang berhubungan dengan jabatan/kedudukan. Iri dalam
kategori ini, menurut As-Syarqawi (Ibid) cenderung memunculkan sikap
antipati dan bahkan melahirkan sikap permusuhan terhadap orang lain.
Kemunculannya lebih disebabkan oleh rasa sombong, bangga, riya’, dan
rasa takut kehilangan kedudukan.
Secara umum untuk mengatasi penyakit jiwa akibat tekanan mental, atau penyakit jiwa yang tergolong
unorganik
ini adalah dengan terapi pendidikan akhlak sejak dini, serta
menciptakan keluarga dalam rumah tanga sakinah. Oleh sebab itu dalam
Islam pendidikan akhlak bagi anak sangat ditekankan. Anak diajari untuk
santun, menghargai kepada orang lain dan senantiasa berbuat kebajikan.
Di sini lantas orang tua pun dituntut utnuk berperan dalam keluarga,
menjadi teladan bagi putra-putrinya. Bukankah nabi diutus untuk
memperbaiki dan menyempurnakan akhlak?
Mengapa Islam juga melarang minum-minum keras, mabuk-mabukan, berbuat
zina, homo seksual, dan menyuruh memelihara kebersihan dan kesehatan?
Ketahuilah bahwa yang demikian itu (mabuk-mabukan, zina, dan lebih dari
itu adalah merusak diri sendiri dan tatanan sosial (destruktif),
mengakibatkan penyakit dan seterusnya penyakit tersebut dalam Mental
Hygiene disebut sebagai penyakit organik yang amat membahayakan. Untuk
ini lihat (Q.S. Al-Maidah: 90 dan Al-Isra’: 32).
Kesimpulan
Dari tulisan ini diperoleh kesimpulan bahwa sifat-sifat buruk yang
mengakibatkan pada gangguan kejiwaan yang menerpa kehidupan masyarakat
modern saat ini adalah merupakan akibat dari kurangnya kontrol diri
terhadap sifat-sifat lahiriahnya untuk mendapatkan kepuasan diri.
Sifat-sifat Iri, Dengki, Riya, Emosi, Lalai, Lupa, Was-was dan Rakus
merupakan sifat-sifat jelek yang harus dijauhi agar jiwa kita tidak
terbawa arus kedalamnya guna mendapatkan ketengan jiwa yang kita
harapkan.
Islam memberikan tuntunan akhlak kepada penganutnya tentang tata cara
hidup yang baik supaya nantinya kita tidak terjebak untuk selalu
memperturutkan hawa nafsu yang kurang baik.
Dalam kajian ini diperoleh kesimpulan bahwa sifat-sifat buruk seperti
Iri, Dengki, Riya’, Rakus dan Emosi yang tidak terkendali sebagai sebab
utama terjadinya depresi mental yang berujung pada gangguan jiwa.